Produktif banyak diidentikkan dengan 'kerja keras' dan melelahkan. Tapi meningkatkan produktivitas sebenarnya juga dapat ditingkatkan dengan hal-hal sepele, asal Anda tahu bagaimana memanfaatkannya dengan baik.
1. Kursi kerja yang nyaman dan enak diduduki
Kursi yang terlalu keras, terlalu pendek atau terlalu tinggi dapat mengganggu kenyamanan Anda dalam bekerja. Pastikan Anda memakai kursi yang nyaman, terutama bila banyak bekerja sambil duduk.
2. Komputer yang baik dan sejajar mata
Gunakan keyboard komputer dengan tuts yang baik dan layar komputer yang sejajar dengan mata, komputer yang berfungsi dengan baik mampu mempengaruhi kelancaran dan produktivitas. Kenyamanan dan postur tubuh yang baik saat bekerja, akan membuat pikiran menjadi lebih jernih dan mengalir.
3. Bergeraklah, jangan duduk terus
Setiap setengah jam sekali, bangkitlah dari kursi dan tinggalkan meja kerja selama tiga hingga lima menit. Gunakan waktu tersebut untuk merenggangkan tubuh dan menyegarkan pikiran. Setelah itu, segera kembali ke meja dengan konsentrasi dan kondisi yang lebih segar.
4. Batasi waktu di kantor
Buatlah aturan sendiri, berapa jam Anda menyelesaikan pekerjaan kantor dan kapan harus meninggalkan kantor. Taati peraturan yang Anda buat tersebut, sehingga Anda dapat bekerja lebih efisien dan tidak dikejar-kejar tenggat. Semakin banyak waktu yang Anda miliki, semakin lama Anda menyelesaikan pekerjaan.
5. Buat daftar kerja
Agar lebih efisien dan efektif, tulislah daftar pekerjaan yang harus dikerjakan setiap harinya. Kemudian coretlah satu persatu begitu selesai mengerjakannya.
6. Sediakan buku catatan atau agenda khusus
Buang kebiasaan menulis catatan penting di sembarang kertas, persiapkan buku khusus atau agenda yang Anda bawa setiap saat. Sehingga bila ada ide yang melintas, dapat segera dicatat. Anda pun tak akan membuang waktu lagi untuk sibuk mencarinya.
7. Buat ruang kerja seringkas mungkin
Pastikan Anda punya tempat tersendiri untuk menyimpan alat-alat kantor, mulai dari klip kertas, pulpen, spidol, dll. Sehingga begitu butuh, Anda langsung tahu di mana mencarinya. Menurut beberapa survey, 75% pekerja menghabiskan waktu 15 menit setiap hari hanya untuk mencari barang yang sulit dicari.
Meski terlihat sepele, namun bila dipraktekkan dengan baik maka produktivitas kerja Anda akan meningkat dibanding sebelumnya.
(ace)
Sabtu, 07 Maret 2009
Jumat, 27 Februari 2009
seni
Suatu sore penulis bersama seorang mahasiswi menyempatkan diri untuk melihat dan menikmati sebuah pameran lukisan di Bentara Budaya Yogyakarta. Pada kesempatan itu BBY menggelar sebuah pameran lukisan yang menghadirkan 7 perupa dari kelompok “Lobang 7“. Ketujuh perupa menggelar karya dalam pameran bertajuk “Angka-Angka“. Ada yang melukis secara figuratif, abstrak, bahasa simbolis, suasana surealistik yang sunyi-senyap, bahasa visual yang semi abstrak dan semi impresionistik dan ada pula yang realis humoris.
Ada satu kejadian menarik ketika kami diam berdiri dan memandangi sebuah lukisan abstrak. Sebuah obyek seni yang bagi sebagian orang begitu sulit dipahami karena bisa saja itu lahir dari sebuah kontemplasi yang tidak terstruktur. Nah, si Mahasiswi di samping saya ini tiba-tiba berseloroh, “bagaimana mungkin coretan-coretan semacam ini disebut indah!“ Ia protes mengapa ia tidak mengalami apa itu keindahan dari lukisan berjenis abstrak di hadapannya. Ia heran mengapa ia hanya mandeg sampai pada ketidaktahuan dan sepertinya tidak memiliki kapasitas untuk sampai pada ekstase keindahan.
Kejadian seperti di atas bukan sesuatu yang baru kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Protes dan perdebatan soal begini menjadi hal yang sia-sia. Ini memang bukan selera yang tidak bisa diperdebatkan, melainkan terkait erat dengan citra rasa seni atas subyek yang memang tidak bisa dibantah apalagi diperdebatkan.
Citra rasa seni memiliki misteri alur dalam diri subyek yang memang sulit dipahami dengan kerangka berpikir logis, apalagi sebagai kerangka alur berpikir yang matematis. Di dalam citra rasa seni subyek menjelajahi imaji-imaji liar yang tidak terstruktur. Ada getaran-getaran yang lantas membentuk pengalaman seseorang dalam waktu yang relatif singkat. Ketika subyek menikmati obyek seni bisa saja ia tiba-tiba terhenyak dan bahkan sampai pada pencapaian pengalaman akan ekstase keindahan.
Para kritikus seni dan para filsuf pun kadang tak berdaya saat harus menjelaskan sebuah sorotan yang terfokus pada pengalaman subyek akan keindahan, saat harus menyoroti pengalaman keindahan dalam diri orangnya teristimewa ketika bersentuhan dengan obyek seni.
Estetika atau yang lantas lebih populer di Indonesia dengan filsafat keindahan sebenarnya sudah menyibukkan diri dengan fenomena subyek yang mengalami ekstase keindahan saat bersentuhan dengan obyek seni. Di dalam estetika dikenal dua pendekatan terhadap pengalaman-pengalaman akan keindahan. Pertama, meneliti langsung keindahan itu dalam obyek-obyek atau benda atau alam indah serta karya seni. Subyek dalam hal ini menyibukkan diri dengan struktur-struktur keindahan yang terpancar dari obyek. Keindahan yang demikian bisa ini saja lahir karena teori-teori yang ada di kepala. Sebuah teori hasil dari pembelajaran. Kelemahannya, bisa jadi hanya ungkapan keindahan yang terbentuk karena pemaksaan dan penyesuaian dengan teori. Kedua, menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami oleh si subyek (pengalaman keindahan dalam diri orangnya). Dalam hal ini kita harus bergumul dengan rasa indah itu dan secara logis mencoba menstrukturkannya.
Para pemikir modern cenderung menitikberatkan perhatiannya pada pengalaman keindahan dalam diri orangnya. Clive Bell seorang pemikir asal Inggris pernah berkata, “Estetika mesti berangkat dari pengalaman pribadi yang berupa rasa khusus atau istimewa.“ Pengalaman pribadi sebagai pengalaman pribadi, menurutnya, kalau pengalaman itu dirasakan oleh seorang pribadi. Berkaitan dengan rasa keindahan (rasa estetis), Clive Bell menyatakan bahwa orang hanya bisa tahu apa itu kalau pernah mengalaminya dan bukan karena dari orang lain yaitu dengan diberitahu.
Manusia sebagai subyek dan karya seni sebagai obyek ketika saling berhadapan dan bersentuhan memunculkan getaran-getaran atau reaksi-reaksi yang pusatnya dalam rasa lalu menggumpal dalam pengalaman-pengalaman. Rasa itu begitu istimewa dan khusus. Ia bukan sekadar aneh atau ganjil, tapi rasa yang unik pas. Orang Jerman mengistilahkan ini dengan “Aha Erfahrung“. Ada keterkejutan yang muncul secara tiba-tiba. Sebuah pengalaman baru yang sulit dijelaskan. Ia menghadirkan sebuah ruang nyaman, teduh dan asoi. Yang begini ada keselarasan ketika seseorang berhadapan dengan karya seni.
Rasa pas khusus itu hanya muncul bila karya seni itu memiliki wujud yang bermakna. Tak heran makanya Clive Bell lantas menggagas diktum estetikanya dalam rumusan yang cukup tajam. “Keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri punya pengalaman yang bisa mengenali wujud bermakna dalam satu benda atau karya seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan.“ Ada relasi timbal balik dan saling mengisi antara mengenali wujud bermakna dan getaran atau rangsangan keindahan.
Relasi yang harmonis dan selaras akan menghasilkan sebuah keterhenyakan pada diri subyek ketika ia masuk sebuah tempat pameran atau galeri dan menyapu lukisan dan menikmatinya. Hal demikian membutuhkan satu syarat agar seseorang sungguh sampai pada pengalaman estetis yang mendalam yaitu menikmatinya lebih lama dan lebih hening. Dalam beberapa kejadian, termasuk pada si Mahasiswi di atas, yaitu pengenalan secara tergesa-gesa akan kehadiran bentuk yang memukau mengakibatkan hilangya pengalaman estetis karena tidak adanya waktu untuk mengalami getaran estetisnya.
Sejak abad ke-18, banyak pemikir lantas menyibukkan diri dengan usaha pencarian dasar-dasar yang bersifat bisa dinalar. Salah satu tokoh yang terlibat dalam usaha ini yaitu David Hume. Ia menelurkan prinsip asosiasi yang inti prinsip tersebut yaitu bahwa yang kita kenal itu hanya serentetan ide-ide atau kesan-kesan yang disatukan lalu disimpulkan. Ungkapan saya melihat kuda sebenarnya simpulan dari kesan mengenai binatang berwarna coklat, ditambah kesan tentang ringkik suaranya dan dari kebiasaan, lalu kita ungkapkan sebuah kesimpulan kesan itu: saya melihat kuda.
Dalam prinsip asosiasi ini kita menemukan bahwa keterkejutan itu bisa jadi rajutan kesan-kesan dan dari kebiasaan. Apa yang kita tangkap sebagai pengalaman masa lalu dan tiba-tiba hadir ketika menghadapi sebuah lukisan atau karya seni cukup menentukan terkait dengan pengalaman keindahan. Letupan-leputan kecil pengalaman dari masa lalu yang berupa kesan-kesan menggumpal dan mewujud dalam pengalaman estetis. Pengalaman masa lalu bisa saja pengalaman yang dialami secara riil atau yang secara tidak sadar masuk ke dalam alam bawah sadar manusia.
Dalam koridor tinjauan psikoanalisa, maka bisa dimengerti bahwa letupan-letupan yang muncul dalam kesan ketika menghadapi sebuah obyek seni itu bisa jadi tak beda jauh dengan pijar-pijar kesadaran dari alam bawah sadar yang muncul pada seseorang ketika ia sedang tertidur pulas dan mengejawantah dalam mimpi. Sebuah totalitas kehadiran kesan-kesan dari alam bawah sadar yang tiba-tiba menggeliat liar tatkala subyek berhadapan dengan obyek seni. Relung-relung keindahan ialah kesatuan pijar-pijar kesan yang menggumpal hadir secara tak terduga ketika subyek bersentuhan dengan obyek seni.***
* Gendhotwukir, penyair dan Jurnalis dari Komunitas Merapi. Penulis pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman.
Ada satu kejadian menarik ketika kami diam berdiri dan memandangi sebuah lukisan abstrak. Sebuah obyek seni yang bagi sebagian orang begitu sulit dipahami karena bisa saja itu lahir dari sebuah kontemplasi yang tidak terstruktur. Nah, si Mahasiswi di samping saya ini tiba-tiba berseloroh, “bagaimana mungkin coretan-coretan semacam ini disebut indah!“ Ia protes mengapa ia tidak mengalami apa itu keindahan dari lukisan berjenis abstrak di hadapannya. Ia heran mengapa ia hanya mandeg sampai pada ketidaktahuan dan sepertinya tidak memiliki kapasitas untuk sampai pada ekstase keindahan.
Kejadian seperti di atas bukan sesuatu yang baru kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Protes dan perdebatan soal begini menjadi hal yang sia-sia. Ini memang bukan selera yang tidak bisa diperdebatkan, melainkan terkait erat dengan citra rasa seni atas subyek yang memang tidak bisa dibantah apalagi diperdebatkan.
Citra rasa seni memiliki misteri alur dalam diri subyek yang memang sulit dipahami dengan kerangka berpikir logis, apalagi sebagai kerangka alur berpikir yang matematis. Di dalam citra rasa seni subyek menjelajahi imaji-imaji liar yang tidak terstruktur. Ada getaran-getaran yang lantas membentuk pengalaman seseorang dalam waktu yang relatif singkat. Ketika subyek menikmati obyek seni bisa saja ia tiba-tiba terhenyak dan bahkan sampai pada pencapaian pengalaman akan ekstase keindahan.
Para kritikus seni dan para filsuf pun kadang tak berdaya saat harus menjelaskan sebuah sorotan yang terfokus pada pengalaman subyek akan keindahan, saat harus menyoroti pengalaman keindahan dalam diri orangnya teristimewa ketika bersentuhan dengan obyek seni.
Estetika atau yang lantas lebih populer di Indonesia dengan filsafat keindahan sebenarnya sudah menyibukkan diri dengan fenomena subyek yang mengalami ekstase keindahan saat bersentuhan dengan obyek seni. Di dalam estetika dikenal dua pendekatan terhadap pengalaman-pengalaman akan keindahan. Pertama, meneliti langsung keindahan itu dalam obyek-obyek atau benda atau alam indah serta karya seni. Subyek dalam hal ini menyibukkan diri dengan struktur-struktur keindahan yang terpancar dari obyek. Keindahan yang demikian bisa ini saja lahir karena teori-teori yang ada di kepala. Sebuah teori hasil dari pembelajaran. Kelemahannya, bisa jadi hanya ungkapan keindahan yang terbentuk karena pemaksaan dan penyesuaian dengan teori. Kedua, menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami oleh si subyek (pengalaman keindahan dalam diri orangnya). Dalam hal ini kita harus bergumul dengan rasa indah itu dan secara logis mencoba menstrukturkannya.
Para pemikir modern cenderung menitikberatkan perhatiannya pada pengalaman keindahan dalam diri orangnya. Clive Bell seorang pemikir asal Inggris pernah berkata, “Estetika mesti berangkat dari pengalaman pribadi yang berupa rasa khusus atau istimewa.“ Pengalaman pribadi sebagai pengalaman pribadi, menurutnya, kalau pengalaman itu dirasakan oleh seorang pribadi. Berkaitan dengan rasa keindahan (rasa estetis), Clive Bell menyatakan bahwa orang hanya bisa tahu apa itu kalau pernah mengalaminya dan bukan karena dari orang lain yaitu dengan diberitahu.
Manusia sebagai subyek dan karya seni sebagai obyek ketika saling berhadapan dan bersentuhan memunculkan getaran-getaran atau reaksi-reaksi yang pusatnya dalam rasa lalu menggumpal dalam pengalaman-pengalaman. Rasa itu begitu istimewa dan khusus. Ia bukan sekadar aneh atau ganjil, tapi rasa yang unik pas. Orang Jerman mengistilahkan ini dengan “Aha Erfahrung“. Ada keterkejutan yang muncul secara tiba-tiba. Sebuah pengalaman baru yang sulit dijelaskan. Ia menghadirkan sebuah ruang nyaman, teduh dan asoi. Yang begini ada keselarasan ketika seseorang berhadapan dengan karya seni.
Rasa pas khusus itu hanya muncul bila karya seni itu memiliki wujud yang bermakna. Tak heran makanya Clive Bell lantas menggagas diktum estetikanya dalam rumusan yang cukup tajam. “Keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri punya pengalaman yang bisa mengenali wujud bermakna dalam satu benda atau karya seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan.“ Ada relasi timbal balik dan saling mengisi antara mengenali wujud bermakna dan getaran atau rangsangan keindahan.
Relasi yang harmonis dan selaras akan menghasilkan sebuah keterhenyakan pada diri subyek ketika ia masuk sebuah tempat pameran atau galeri dan menyapu lukisan dan menikmatinya. Hal demikian membutuhkan satu syarat agar seseorang sungguh sampai pada pengalaman estetis yang mendalam yaitu menikmatinya lebih lama dan lebih hening. Dalam beberapa kejadian, termasuk pada si Mahasiswi di atas, yaitu pengenalan secara tergesa-gesa akan kehadiran bentuk yang memukau mengakibatkan hilangya pengalaman estetis karena tidak adanya waktu untuk mengalami getaran estetisnya.
Sejak abad ke-18, banyak pemikir lantas menyibukkan diri dengan usaha pencarian dasar-dasar yang bersifat bisa dinalar. Salah satu tokoh yang terlibat dalam usaha ini yaitu David Hume. Ia menelurkan prinsip asosiasi yang inti prinsip tersebut yaitu bahwa yang kita kenal itu hanya serentetan ide-ide atau kesan-kesan yang disatukan lalu disimpulkan. Ungkapan saya melihat kuda sebenarnya simpulan dari kesan mengenai binatang berwarna coklat, ditambah kesan tentang ringkik suaranya dan dari kebiasaan, lalu kita ungkapkan sebuah kesimpulan kesan itu: saya melihat kuda.
Dalam prinsip asosiasi ini kita menemukan bahwa keterkejutan itu bisa jadi rajutan kesan-kesan dan dari kebiasaan. Apa yang kita tangkap sebagai pengalaman masa lalu dan tiba-tiba hadir ketika menghadapi sebuah lukisan atau karya seni cukup menentukan terkait dengan pengalaman keindahan. Letupan-leputan kecil pengalaman dari masa lalu yang berupa kesan-kesan menggumpal dan mewujud dalam pengalaman estetis. Pengalaman masa lalu bisa saja pengalaman yang dialami secara riil atau yang secara tidak sadar masuk ke dalam alam bawah sadar manusia.
Dalam koridor tinjauan psikoanalisa, maka bisa dimengerti bahwa letupan-letupan yang muncul dalam kesan ketika menghadapi sebuah obyek seni itu bisa jadi tak beda jauh dengan pijar-pijar kesadaran dari alam bawah sadar yang muncul pada seseorang ketika ia sedang tertidur pulas dan mengejawantah dalam mimpi. Sebuah totalitas kehadiran kesan-kesan dari alam bawah sadar yang tiba-tiba menggeliat liar tatkala subyek berhadapan dengan obyek seni. Relung-relung keindahan ialah kesatuan pijar-pijar kesan yang menggumpal hadir secara tak terduga ketika subyek bersentuhan dengan obyek seni.***
* Gendhotwukir, penyair dan Jurnalis dari Komunitas Merapi. Penulis pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman.
Langganan:
Postingan (Atom)